Minggu, 14 Oktober 2012

A Promise

Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia., meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku, aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku akan tetap memaafkan Jonathan, meskipun dia sering menghianati cintaku. “Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya kamu selingkuh! Kamu udah ngancurin kepercayaan aku!” Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan Dia memelukku erat. “Maafin aku Gita, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji Gita. Aku sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi!” Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Jonathan, aku sangat mencintainya. Malam ini Jonathan menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun merah pemberian Jonathan dan berdandan secantik mungkin. Kutemui Jonathan di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah. “Gita, kamu cantik banget malam ini.” “Makasih. Kita jadi dinner kan?” “Ya tentu, tapi Gita, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik Taksi?” “Engga ko, ya udah kita panggil Taksi aja, ayo.” Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Jonathan. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Jonathan menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Elga menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Jonathan perbuat padaku. Kami berhenti disebuah Tenda di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Jonathan benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Jonathan, dia tidak mungkin mau makan di warung kecil di pinggir jalan. “Kenapa Jo? Mienya gak enak?” “Enggak ko, mienya enak, Cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini Gita?” “Enggak. Aku sering ko makan ditempat kaya gini. Mie ayamnya enak loh. Kamu kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam, hehe.” Aku yakin, Jonathan gak pernah makan ditempat kaya gini. Tapi sepertinya Jonathan mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal. Dua tahun bersama Jonathan bukan waktu yang singkat, dan tidak mudah untuk mempertahankan hubungan kami selama ini. Jonathan sering menghianati aku, bukan satu atau dua kali Jonathan berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku wanita bodoh yang mau dipermainkan oleh Jonathan. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku. Selesai makan Jonathan nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya. “Apa dompetku ketinggalan di Taksi?” “Yakin ? di saku gak ada?” “Gak ada. Gimana dong?” “ya udah, pake uang aku aja. Setiap jalan selalu kamu yang traktir aku, sekarang giliran aku yang traktir kamu. Oke!” “oke. Makasih ya sayang, maafin aku.” Saat di kampus, aku bertemu dengan Eva dan Shely. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir empat bulan kami tidak bersama, hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Eva menarik tanganku. “Gita, kamu sakit? Ko pucet sih?” Eva bicara padaku, ini seperti mimpi, Eva masih peduli padaku. “Engga, Cuma capek aja ko Va. Kalian apa kabar?” “Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sih dimainin sama cowok playboy kaya Jonathan! Jangan-jangan Jonathan gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.” “Stop Shel ! Kasian Gita! Kamu kenapa sih Shel bahas itu mulu? Gita kan gak salah.” “Udah deh Eva, kamu diem aja! Harusnya kamu ngaca Gita! Kenapa kamu diselingkuhin terus!” Shely bener, jangan-jangan Jonathan gak sayang sama aku, Jonathan gak cinta sama aku, itu yang buat Jonathan selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Jonathan dan takut kehilangan Jonathan. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Jonathan padaku. Jika benar Jonathan tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi. Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Jonathan bersama seorang wanita. Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku. Mungkin Jonathan menghianatiku lagi. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat wanita itu, sangat jelas, dia sahabatku, Shely…. Sungguh, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Jonathan. Akan ku pastikan, apa Jonathan akan jujur padaku atau dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubungi Jonathan. “Hallo, kamu bisa jemput aku sekarang Jo?” “Maaf Gita, aku gak bisa kalo sekarang. Aku lagi nganter kakak, kamu gak bawa mobil ya?” “Emang kakak kamu mau kemana Jo?” “Mau ke…, itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?” “Jo! Sejak kapan kamu mau nganter kakak kamu belanja? Sejak Shely jadi kakak kamu? Hah?!!” “Gita, kamu ngomong apa sayang? Kamu bilang sekarang lagi dimana?” “Aku liat sendiri kamu pergi sama Shely Jo! Kamu gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin kamu Jo! Kenapa kamu harus selingkuh sama ShelyJo? Aku benci kamu! Mulai sekarang aku gak mau liat kamu lagi! Kita Putus Jo!” “Gita, ini gak…….” Kubuang ponselku, kulaju mobilku dengan kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwaJonathan tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku. Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Mama dan Papa mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Jonathan, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Jonathan datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Jonathan sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan Jonathan, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Jonathan yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari. Hari ini kuputuskan untuk pergi kuliah, aku berharap tidak bertemu dengan jonathan. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Jonathan ada dihadapanku. “Maafin aku Gita! Aku sama Shely gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Gita! “Kita udah putus Jo! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang kamu bebas! Kamu mau punya pacar Tujuh juga bukan urusan aku!” “Tapi Gita…..” Aku berlari meninggalkan Jonathan, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Jonathan terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan………… “Jooooo…..” Jonathan tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepala Jonathan. “Jonathan, maafin aku!” “Gita. Ma-af ma-af a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……” “Jonathaaaaannnn……” Jonathan meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Jonathan semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Jonathan menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan. Rasanya ingin sekali menemani Jonathan didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Satu minggu setelah Jonathan meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersama Jonathan yang tidak akan pernah terulang lagi. SenyumanJonathan, tatapan Jonathan, takan pernah bisa kulupakan. “Gita sayang, ini ada titipan dari mamanya Jonathan. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus kuat! Biar Jonathan tenang di alam sana. mama yakin kamu bisa!” “Ini salah aku ma. Aku butuh waktu.” Kubuka bingkisan dari mama Jonathan, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu. Dear Gita, Gita sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo cuma kamu yang terbaik buat aku, cuma kamu yang aku cinta. Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita. Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu Gita. Love You Jonathan Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Jonathan, aku berlari menghampiri mama dan memeluknya. “Ma, aku udah nikah sama Jonathan!” “Gita, kenapa sayang?” “Ini!” Kutunjukan cincin pemberian Jonathan dijari manisku. “Gita, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!” “Sekarang aku mau cerai sama Jonathan ma!” kulepas cincin pemberian Jonathan dan memberikannya pada mama. “Aku titip cincin pernikahanku dengan Jonathan ya Ma! Mama harus menjaganya dengan baik!” Mama memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar